//
you're reading...
Lintas Sport

Banyak Orang Mencintai Sepak Bola, Menawarkan Kegembiraan Juga Tangisan

9ec5583352ad39419ccb0f9400c8b4439800bf85Daya tarik sepak bola membuatnya disebut primadona olah raga di muka bumi. Sepak bola disukai semua golongan yang membuatnya memiliki daya pikat tinggi. Setiap orang bisa menyukai sepak bola, tak ada batasan status untuk menjadi bagian olah raga ini.

Kenapa begitu banyak orang mau mencintai sepak bola ketika selain menawarkan kegembiraan ia juga menjanjikan tangisan?

Walau terkadang tim yang didukung disebut sulit memberikan kemenangan, tetap saja para pendukung hadir mendampingi para pemain yang berlaga di lapangan hijau.

Saya ingin mengajak Anda mundur ke 16 Oktober 2012, ketika Jerman menjamu Swedia dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2014 di Grup C zona Eropa. Hingga menit ke-55, tuan rumah unggul 4-0 melalui gol Miroslav Klose (2 gol), Per Mertesacker, dan Mesut Oezil.

Bila kita berada di dalam Stadion Olympia ketika itu, tidakkah kita sudah diambang mengambil keputusan untuk menyatakan: “the game is over!”

Tapi, pertandingan belum selesai hingga wasit meniup peluit tanda laga bubar. Zlatan Ibrahimovic (62’), Mikael Lustig (64’), Johan Elmander (76’), dan Rasmus Elm (90+3) membuyarkan pesta publik di Kota Berlin itu. Ya, Swedia mencetak empat gol dan menjaga gawangnya dari ancaman Jerman. Skor akhir 4-4.

Di Olympiastadion itu, jumlah penonton tercatat lebih dari 72 ribu orang. Bisakah Anda membayangkan perasaan sejumlah penonton yang datang dari berbagai kota di Swedia untuk menjadi saksi mata keajaiban harapan dari sepak bola di Kota Berlin?

Air mata keajaiban dan harapan di Kota Berlin itu tergolong berskala kecil. Masih banyak kejutan dari panggung rumput hijau, termasuk keberhasilan Denmark dan Yunani di Piala Eropa.

Ketika Denmark akhirnya tampil sebagai tim pengganti Yugoslavia di putaran final Piala Eropa 1992, berapa banyak pendukung Tim Dinamit yang berani berharap Peter Schmeichel dkk. akan kembali dari Swedia dengan trofi jawara Eropa di tangan?

Bukankah tim yang diasuh Richard Moeller-Nielsen itu sudah dibubarkan dan sebagian besar para pemain Denmark tengah menikmati liburan bersama keluarga ketika UEFA memutuskan menghukum Yugoslavia dan memberikan tempatnya kepada Denmark di Euro 1992?

Fisik, kebugaran, dan fokus para pemain Denmark diragukan bisa total berada di lapangan dan mempersembahkan kemenangan bagi rakyatnya. Tapi, selalu ada masyarakat Denmark yang datang mendukung timnya berjuang di Swedia dengan memendam harapan.

Tawa publik Denmark di Swedia adalah tangis pendukung Belanda. Bagaimana mungkin seorang pemain sekelas Marco van Basten gagal mengeksekusi tendangan penalti di partai semifinal? Keceriaan pendukung Denmark adalah kekecewaan suporter Jerman, yang harus melihat timnya kebobolan dua kali tanpa sanggup membalas di partai final.

***

Begitu pula kisah luar biasa Yunani, yang mencapai singgasana Eropa ketika menekuk tuan rumah Portugal di final Piala Eropa 2004. Di turnamen itu, Yunani adalah kelompok tim yang paling tidak dianggap berpeluang menjadi juara. Kira-kira, seberapa jauh masyarakat Yunani berani bermimpi di Euro 2004?

Di Euro 2004, pendukung Yunani harus menjaga harapan ketika timnya berjumpa lawan sekelas Portugal, Spanyol, Rusia, lalu Prancis dan Republik Ceska, hingga kembali bertemu Portugal di final. Bila di fase grup Yunani kalah 1-2, di partai puncak tuan rumah Portugal yang dibekap 1-0.

Atau kejadian ketika Indonesia menggelar Piala Asia 2007 bersama tiga negara lain: Vietnam, Malaysia, Thailand. Siapakah yang menduga tim nasional Irak akan muncul sebagai juara?

Saya membayangkan seperti apa impian segelintir pendukung Irak yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno sebelum tim kesayangannya berlaga di putaran final Piala Asia 2007. Irak, negara yang tak bisa memutar roda kompetisi dengan tenang di negaranya, mampu melewati Australia, Korea Selatan, hingga Arab Saudi di partai puncak.

Apa kaitan sedikit kisah hebat ini dengan Tim Garuda dan para pendukungnya? “Indonesia punya modal kuat dengan kecintaan masyarakatnya terhadap sepak bola. Semoga saya bisa membantu mendekatkan mimpi dan harapan pencinta sepak bola di sini,” ujar Jacksen F. Tiago, pelatih tim nasional asal Brasil.

Ya, mimpi dan harapan itu tak boleh diberangus. Keberhasilan Denmark dan Yunani adalah contoh nyata bagaimana kita tetap menjaga harapan akan kepak sayap Garuda yang membawanya terbang tinggi.

Jadi, kenapa kita harus mencintai sepak bola? Karena olah raga ini sering memberikan kepada kita kejadian-kejadian spektakuler. Ada harapan di dalamnya!

Setelah Tim Garuda Muda menjuarai Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo, Jawa Timur, sudah sewajarnya kita memindahkan mimpi dan harapan itu ke jenjang yang lebih tinggi. Suporter punya peran tak kalah penting, yakni menjadi bagian sayap Garuda untuk terbang semakin tinggi. #

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

lowker

Edisi 101

101_Page_01

Pendiri / Pimpinan Umum

pimred

” Siap Tangkap & Penjarakan KORUPTOR …! “

LOGO W CORRUPTION web
16Y

STOP PRESS !

stopress web joko purnomoedi tengku h martono marshandi

Arsip Berita

Kategori Berita

Kumpulan Berita

Fan’s page BIN

Blog Stats

  • 211,560 hits
%d bloggers like this: