//
you're reading...
Agama, Internasional, Nasional

Terinjak-injak hingga harus meregang nyawa. Sebanyak 2 orang diduga TEWAS.

Untitled3

Di jaman yang semakin komplek dengan ketidakjelasan  ini, sikap disiplin cenderung mulai dilupakan. Disiplin biasa kita sebut sikap mental tekun dan konsisten. Aktivitas-aktivitas seperti membaca buku, berolahraga yang memerlukan kedisiplinan mulai ditinggalkan dengan alasan tidak sempat. Sehingga penundaan sudah menjadi sikap yang biasa.

Qurban clmbPadahal sikap disiplin inilah yang dapat mempertahankan suatu keadaan disaat menghadapi krisis. Disiplin dalam menjalankan program kerja, komitmen dalam perencanaan, tanpa mempedulikan perubahan situasi.  Sebagai contoh Ribuan warga yang antri untuk mendapatkan jatah pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pembagian telah dilakukan sejak pukul 05.00 WIB. Sementara pintu masuk masjid telah dipadati sejak pukul 01.00 WIB. Tepat pukul 4.30 WIB pintu bagian utara masjid dibuka, ribuan warga pun langsung menyerbu masuk ke dalam halaman masjid. Padatnya warga mengakibatkan sejumlah orang jatuh tersungkur. Beberapa di antaranya tidak dapat menyelematkan diri dan kemudian terinjak-injak hingga harus meregang nyawa. Sebanyak 2 orang diduga TEWAS.

Tidak sedikit orang yang menghubungkan disiplin dengan olahraga dan militer. Disiplin erat dengan kegiatan-kegiatan yang perlu kepatuhan. Padahal kedisiplinan itu seharusnya menempel pada diri sendiri. Muncul atas kesadaran sendiri. Karena konsistensi tindakan hanya bisa dijaga dengan adanya kesadaran dari dirinya sendiri untuk disiplin. Menjaga konsistensi ini tidaklah mudah. Selalu ada rasa tidak nyaman, dan berusaha menahan sesuatu dalam kondisi yang nyaman. Inilah yang nantinya membentuk individu yang kuat.

Budaya disiplin seharusnya dilakukan oleh masing-masing individu. Dari individu yang memliki disiplin tinggi ini maka akan terbentuk  budaya yang baik. Disiplin tidak hanya pada tindakan. Disiplin akan terbentuk bukan dari keterpaksaan, namun karena tindakan konsisten dari perilaku dan tanggung jawab. Merasa bertanggung jawab atas apapun akan membentuk rasa disiplin. Intinya adalah disiplin dibentuk dari kesabaran masing-masing individu. Banyak orang rela mengorbankan apa saja untuk mempertahankan  “kemajuan” namun tidak serta merta menjamin bisa menutup pintu kesalahan. Meski pada dasarnya memberikan pelayanan sebagai pengabdian,   bisa jadi tergoda oleh keuntungan duniawi, sehingga mengabaikan kemaslahatan.

Karenanya, diperlukan aturan yang adil yang menjamin ketenangan  dan pada saat yang sama memberikan kenyamanan bagi para profesional bidang penyelenggara dalam bekerja.  Contoh lain,  Demi mendapatkan uang sebesar Rp 4.000, ratusan anak kecil saling dorong dan berdesakan saat antri pembagian zakat,   tidak hanya anak-anak yang mengantri untuk mendapatkan uang, orang dewasa juga mengantri guna mendapatkan uang Rp20.000. Ratusan anak dan orang dewasa ini langsung berlarian saat pembagian zakat akan dimulai pembagian. Tidak hanya sampai di situ saja, banyak anak-anak kecil yang jatuh saat mengantre itu, karena takut tidak kebagian uang. Ratusan orang dewasa juga tak mau kalah, mereka juga saling dorong dan berdesakan antara satu dengan yang lainnya. Sepertinya kesabaran pada pribadi di sebagian masyarakat kita memang berbeda dengan masyarakat tempat lainnya, lalu apa sebenarnya yang menjadikan perbedaan sikap pembentukan kedisplinan pribadi yang berbeda itu jika memang harus di awali dari pembelajaran sejak dini, barangkali disinilah awal pekerjaan bagi setiap individu untuk BERSABAR.

Ketika penulis mengambil pelajaran dari suatu komunitas kampung santri yang berada di daerah pegunungan disaat pelaksanaan perayaan Hari Raya Idul Adha yang telah lalu bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1434 H (15/10/2013),    menggelar kegiatan Syiar Qurban 1434 H yang diikuti oleh seluruh warga, siswa siswi SDIT al-Imam asy-Syafi’i berikut  asatidz dan asatidzah,   dengan penyaluran hewan kurban yang dilakukan oleh komunitas masyarakat Cilembu II Sumedang, seorang tokoh masyarakat H.Ahmad Dudung sepertinya layak untuk dijadikan contoh pembelajaran didalam membina komunitasnya, lebih dari 200 umpi warga dengan khidmat mendengarkan pemaparan khutbah Ust.Yana (salah seorang siswa LIPIA Jakarta -red-) mengenai Hikmah dari ibadah qurban ini di antarannya  adalah mengajarkan kepada kaum muslimin dan muslimat untuk membuang sifat-sifat jelek dalam diri manusia. Usai mendengarkan taushiyah, siswa-siswi SDIT al-Imam asy-Syafi’i beserta warga turun ke lapangan dipandu oleh Ust. Ade Muhyidin  untuk menyaksikan proses penyembelihan hingga pengolahan hewan qurban yang dikoordinir oleh  Ust. Jajang Yani (Mutabari’ -red-). Dalam kegiatan Syiar Qurban 1434 H ini  penyembelihan hewan qurban merupakan partisipasi dari warga yang didukung oleh jajaran pemerintah setempat.

Begitupun hal yang berkaitan dengan esensi kesabaran yang disampaikan oleh Ust.Abu Ibrahim as-semary al-Perumy menyampaikan nasehatnya berkaitan dengan sabar sebagaimana dijelaskan dalam pemaparannya sebagai berikut : “Cobaan tetap akan menimpa atas diri  orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun“.  Selagi engkau bertanya : “Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

Dapat kami jawab : “Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya.  Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras. Beliau bersabda. “Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”. Abdullah bin Mas’ud bertanya .”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?” Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata. “Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”.

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit.

Perhatikanlah riwayat berikut ini. Dari Anas bin Malik, dia berkata.“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sesungguhnya Allah berfirman. Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga”  Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya. “Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?” Sebagian orang shalih berkata : “Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini, sambil menunjuk ke arah matanya, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. (foto/liputan: Abl)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

lowker

Edisi 101

101_Page_01

Pendiri / Pimpinan Umum

pimred

” Siap Tangkap & Penjarakan KORUPTOR …! “

LOGO W CORRUPTION web
16Y

STOP PRESS !

stopress web joko purnomoedi tengku h martono marshandi

Arsip Berita

Kategori Berita

Kumpulan Berita

Fan’s page BIN

Blog Stats

  • 211,133 hits
%d bloggers like this: