//
you're reading...
Nasional

LKPK Akan Lakukan Monitoring Penyelewengan Raskin di Jawa Barat

Bandung-BIN, Untuk mengurangi angka kemiskinan, pemerintah telah membuat berbagai program kebijakan. Salah satunya yang polpuler adalah bantuan beras masyarakat miskin (raskin) di berbagai daerah di Indonesia.
Program bantuan raskin ini adalah satu dari program pemberantasan kemiskinan dan peningkatan ekonomi masyarakat, mengingat angka kemiskinan di negeri ini masih tergolong tinggi.
Sejak bantuan raskin digulirkan pemerintah, berbagai persoalan terus terjadi. Masalah bantuan raskin yang digulirkan sejak 1998 telah banyak menuai kontroversi berupa kasus penyalahgunaan wewenang dan penyelewengan.
Tak terkecuali di Provinsi Jawa Barat, Kasus penyelewengan Raskin di beberapa wilayah di Provinsi ini, hingga kini semakin meradang bahkan menggunakan modus yang bervariatif. Dari beberapa hasil pengamatan dan hasil investigasi dilapangan, Lembaga KPK PANRI  menilai bahwa penyelewengan raskin ini diduga melibatkan banyak pihak, dimulai dari oknum pengiriman, oknum aparat pemerintah desa, dan oknum aparat penegak hukum, sedangkan untuk Modus penyelewengan yang banyak terjadi selama ini biasanya adalah pengurangan jumlah berat raskin didalam karung selain menaikkan harga standar ke penerima Raskin serta menjual Raskin ke para Bandar atau para Pengepul.
Ketua Divisi Pengawasan dan Penindakan Lembaga KPK PANRI Arie Chandra Aziz, SH mengatakan bahwa meskipun telah banyak oknum Kepala Desa kini menjalani hukuman pidana terkait penyelewengan Raskin, tapi hal tersebut tidak dijadikan contoh bagi kepala desa lainnya untuk tidak menyelewengkan Raskin. Malah data yang sudah tercatat dari hasil investigasi jumlahnya naik secara signifikan.
Ditempat terpisah salah satu Anggota LKPK PANRI Wawan Darmawan mengatakan, lemahnya pengawasan yang dilakukan Aparat Pemerintah serta kurang aktifnya aparat penegak hukum di lapangan dalam melakukan penyelidikan akan memberikan keleluasaan para pemain Raskin dalam mejalankan aksinya.
“Kasus penyelewengan raskin di Jawa Barat ini tidak akan tuntas, karena Pemerintah dan Aparat tidak bersinergi. Namun yang terpenting adalah pengawasan selama ini terlalu lemah dan hanya mengandalkan catatan admimistrasi saja. pengawasan lapangan tidak pernah ada,” Ungkap Wawan.
Wawan Menambahkan bahwa dengan  lemahnya pengawasan akan membuat Raskin kerap kali dimanfaatkan oleh sejumlah pihak tertentu dalam mengeruk keuntungan secara pribadi. Menurut catatannya  para oknum-oknum yang menikmati hasil dari penyalahgunaan raskin ini biasanya adalah oknum pemerintah desa dan bandar beras yang menjadi penadahnya . Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah mereka menjual ke Masyarakat hingga Rp. 2.200,- padahal harganya hanya Rp. 1.600,-.
Maka melihat Fenomena permasalahan Raskin tersebut Lembaga KPK PANRI akan terus mengusut hingga tuntas sampai ke akar-akarnya jika menemukan kasus penyelewengan tanpa melihat jabatan dan pangkat oknum yang terlibat didalamnya.
“Kami akan berupaya untuk terus memantau masalah Raskin ini hingga distribusinya tepat sasaran. Jika ditemukan adanya penyelewengan, jangan harap para oknum yang terlibat akan lolos dari jeratan hukum. Kita kawal para oknum tersebut ke ranah hukum tanpa melihat jabatan dan pangkat mereka.. !” tegas Wawan. (TIM WRC)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

lowker

Edisi 101

101_Page_01

Pendiri / Pimpinan Umum

pimred

” Siap Tangkap & Penjarakan KORUPTOR …! “

LOGO W CORRUPTION web
16Y

STOP PRESS !

stopress web joko purnomoedi tengku h martono marshandi

Arsip Berita

Kategori Berita

Kumpulan Berita

Fan’s page BIN

Blog Stats

  • 211,591 hits
%d bloggers like this: